Public Hearing 3: Dari SSO, SIAP Hingga Anggaran Dana

Reporter: Kiki, Yunita

Dwi Cahyo Utomo sebagai Narasumber Public Hearing 3

FEB (2/9) – Bertempat di Hall Gedung C Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip), telah berlangsung acara Public Hearing 3 (PH 3) yang diadakan oleh Senat Mahasiswa (SM) FEB Undip. Acara tersebut merupakan rangkaian acara terakhir setelah beberapa waktu sebelumnya diadakan acara serupa, yaitu PH 1 tentang sarana dan prasarana, serta PH 2 tentang visi dan misi FEB kedepannya.

PH 3 kali ini mengangkat tema “Reformasi Digital Ekonomi Menuju FEB 4.0” dengan pokok bahasan terkait akademik dan kemahasiswaan. Pembahasan tersebut dibagi ke dalam dua sesi talkshow. Sesi pertama diisi oleh Dwi Cahyo Utomo selaku Direktur Keuangan Undip yang juga ditunjuk sebagai Komandan Pasukan Khusus Kontak IT yang mengurusi reformasi sistem informasi yang ada di Undip, dan sesi kedua diisi oleh Firmansyah selaku Wakil Dekan FEB Bidang Akademik dan Kemahasiswaan.

Pada sesi pertama difokuskan untuk pembahasan masa peralihan atau masa transisi sistem informasi khususnya di FEB, yaitu dari Simaweb ke Single Sign On (SSO) serta penggunaan sistem informasi akademik yang baru. Seperti yang diketahui sistem SSO yang digarap tim khusus sejak bulan Februari 2019 ini mulai diterapkan tahun ini pada angkatan 2019, dan akan diimplementasikan secara menyeluruh untuk civitas akademika Undip mulai 1 Januari 2020 mendatang. Sistem Informasi Akademik (SIA) juga sedang disempurnakan menjadi Sistem Informasi Akademik, Penelitian, dan Pengembangan, atau yang lebih dikenal dengan nama SIAP. Perlu diketahui bahwa SSO dan SIAP adalah dua hal berbeda. SSO merupakan sistem informasi terintegrasi dengan cakupan yang luas serta berbagai fasilitas didalamnya, seperti Wi-Fi, One Drive, Office 365, dan lain sebaginya. Sementara SIAP adalah sistem informasi akademik yang merupakan bagian dari pengembangan SSO.

Dikatakan oleh Dwi Cahyo Utomo bahwa adanya SSO bukanlah tanpa alasan. Beberapa tujuan dan alasan pengadaan SSO yaitu untuk membangun digital identity bagi semua civitas akademika Undip, membangun peradaban komunitas digital yang mana komunitas Undip tidak akan pernah lepas selamanya, sebagai salah satu langkah digitalisasi ekonomi dengan memanfaatkan komunitas tersebut, serta sebagai salah satu langah menuju World Class University. Sementara itu, adanya SIAP dimaksudkan agar sistem informasi akademik di Undip lebih terintegrasi.

Selama masa peralihan ini, sistem SSO dan bagian pengembangan dari SSO itu sendiri sedang terus mengalami masa pengembangan sehingga wajar jika belum maksimal atau masih banyak keluhan. Namun perbaikan terus dilakukan agar saat penerapan secara menyeluruh nanti sudah benar–benar siap digunakan. Kesulitan dalam penggunaan SSO maupun SIAP dalam masa transisi ini sebenarnya sudah dibantu dengan adanya video petunjuk dan contact person yang ada di dashboard saat log in SSO. Dengan adanya digitalisasi di berbagai bidang termasuk akademik tujuannya adalah untuk menciptakan sistem yang terintegrasi agar nantinya Undip mampu bersaing dengan perguruan tinggi kelas dunia.

Kemudian dalam sesi tanya jawab, kurang lebih dapat dirangkum terkait pengembangan SSO dan SIAP yaitu bahwa dalam masa transisi dan pengembangan ini, kedepannya otorisasi akan diikuti otentifikasi sehingga meminimalisir kecurangan seperti titip absen. Untuk pengisian Isian Rencana Studi (IRS) melalui SSO, diharapkan masalah server down seperti Simaweb tidak akan terulang kembali. Adanya SSO ini memberikan kepastian bahwa mahasiswa maupun dosen tidak mengalami jadwal yang bentrok. Terkait digitalisasi, adanya SSO juga sangat memungkinkan akan adanya kuliah online.

Kemudian di sesi kedua yang diisi oleh Firmansyah. Sesi ini fokus membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan bidang akademik, seperti anggaran untuk PKM, PIMNAS, dan perlombaan lainnya.

Firmansyah sebagai Narasumber Public Hearing 3

Hal pertama yang dibahas adalah mengenai PKM. Saat ini untuk mencari data-data guna PKM-P pihak kampus sudah memfasilitasi mahasiswa dengan adanya Bloomberg. Bloomberg mempunyai manfaat yang sangat banyak. Tidak hanya untuk mahasiswa dan dosen, namun juga untuk umum. Namun untuk umum, kedepannya akan dikenakan biaya apabila meninginkan akses Bloomberg.

Terkait adanya keterbatasan akses karena banned yang sering dialami, Firmansyah mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh dokumen yang diunduh sudah melebihi batasannya. Sayangnya, sampai saat ini pihak pengelola Bloomberg belum mengetahui batasan tersebut. “Saya sudah berulang kali menanyakan hal ini namun pihak pusat tidak pernah menjawabnya,” Kata Firmansyah.

Rencana kedepannya, Bloomberg tidak bisa diakses setiap hari namun hanya hari-hari tertentu atau saat adanya pelatihan. Hal ini dilakukan agar keberlangsungan Bloomberg tetap berjalan. Namun untuk keperluan PKM, jam operasional Bloomberg akan ditambah.

Pembahasan selanjutnya terkait anggaran PKM, menurut Firmansyah, untuk tahun 2020 besaran anggaran PKM dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Semua kategori sudah ada porsinya masing-masing. Berikut adalah rinciannya: Delegasi seni, budaya, dan olahraga sebesar 51 juta ; Ormawa 315 juta ; Lomba proposal PKM yang lolos masing-masing 250 ribu untuk 100 kelompok ; Kegiatan persiapan yang dilakukan dua kali masing-masing 100 juta ; Delegasi kompetisi dalam dan luar negeri 74 juta.

Pembahasan selanjutnya adalah mengenai pergantian range nilai yang sebelumnya A, B, C dan seterusnya menjadi A, AB, B, dan seterusnya. Pihak fakultas menginginkan hal yang tersebut namun pihak universitas tidak menyetujuinya. Namun sampai saat ini pihak fakultas masih terus mengupayakannya.

Masalah lain yang dibahas adalah mengenai pemindahan gedung untuk magister managemen. Meskipun sudah terdapat anggaran, sayangnya rencana mengenai pembangunan dan pemindahan gedung saat ini belum disetujui pihak universitas.

Terakhir, terkait jam operasional Sekretariat Pusat Kegiatan Mahasiswa, yang semula hanya sampai pukul 17.00 kini diperkenankan sampai pukul 21.00. Perubahan ini sebagai bentuk dukungan fakultas kepada organisasi mahasiswa yang ada di FEB agar dapat meningkatkan soft skill mahasiswanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *