Diskusi Santai Online: Stimulus Moneter dan Fiskal Kala Pandemi

Oleh: Aji dan Salma

Pada hari Rabu (6/5/2020) telah dilaksanakan Diskusi Santai bertemakan “Stimulus Moneter dan Fiskal Kala Pandemi: Apakah Mampu Memperbaiki Perekonomian Nasional” dengan pembicara Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip), Esther Sri Astuti Soeryaningrum Agustin, S.E., M.S.E., Ph.D. Diskusi santai ini diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (HMD IESP) pada aplikasi Microsoft Teams yang diikuti oleh mahasiswa baik prodi IESP serta prodi lainnya yang berjumlah sekitar 60 orang. Diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan iklim diskusi mahasiswa FEB Undip sendiri yang membahas seputar kebijakan pemerintah dalam menangani perekonomian di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Akurasi Data hingga Alokasi Dana yang Kurang Tepat

Kasus wabah virus corona di Indonesia masih terbilang diragukan keakuratannya yang dikeluhkan oleh Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo pada (6/4/2020), yang mengatakan bahwa masih banyak data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang tertutup (Tirto.id 14/4/2020). “Data yang tidak akurat mengakibatkan masyarakat tidak aware,” ujar Esther saat memaparkan presentasinya. Untuk memperoleh data akurat dalam pendataan jumlah pasien positif COVID-19 dibutuhkan data yang nyata. “Harus ada integrasi sistem database baik semua lembaga di tingkat nasional serta di tingkat lokal itu harus terintegrasi dan official dashboard dengan peta interaktif,” kata Esther.

Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 sebesar 5,02% serta Gross Domestic Product (GDP) sebesar 16.628 T. Misal jika perekonomian ini terganggu 50%, dampak COVID-19 berlangsung selama 3 bulan, pemerintah harus mengeluarkan dana stimulus fiskal sebesar 2.078 T. “Selama ini dana yang digelontorkan pemerintah senilai 22 T, 8 T, dan 405,1 T masih jauh dari ekonomi gross yang harus ditanggung oleh masyarakat,” kata Esther. Alokasi dana yang terakhir yakni 405,1 T dinilai kurang tepat, anggaran untuk COVID-19 sendiri hanya sebesar 150 T. Esther menambahkan bahwa pemerintah menggunakan dana abadi pendidikan sebesar 60 T dinilai tidak tepat untuk penanganan COVID-19, karena menurutnya pendidikan adalah investasi sumber daya manusia (SDM). “Sebagian anggaran dana infrastruktur sebesar 419,2 T juga seharusnya dialihkan untuk penanganan COVID-19,” tambahnya. Menurut Esther dengan menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) demi mengatasi pandemi COVID-19 juga harus diwaspadai terlebih karena negara sudah mempunyai utang yang terlalu besar hal ini yang perlu dikaji lebih lanjut.

Diskusi santai ini berlangsung sekitar dua jam yang diakhiri dengan sesi tanya jawab oleh mahasiswa. Mahasiswa yang mengikuti diskusi ini juga terlihat antusias ditandai dengan kerap aktif bertanya serta menanggapi tentang isu-isu nasional yang terkait saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *