KKN Tematik Undip Kembangkan Ekonomi Kreatif di Desa Gemawang Kabupaten Semarang

Tim KKN Tematik Undip Desa Gemawang Bersama Dosen Pembimbing Lapangan

Gemawang (19/8) – Dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dosen dan mahasiswa dari Universitas Diponegoro (Undip) melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini memiliki tema dan tujuan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi kreatif yang ada di desa tersebut. Desa Gemawang telah dikenal sebagai desa vokasi dan memiliki UKM yang memproduksi batik, aksesoris berbahan kain, mainan edukatif, serta olahan kuliner.


Rangkaian kegiatan KKN Tematik tersebut dilaksanakan pada pertengahan Juli 2019 hingga akhir Agustus 2019. Rangkaian kegiatan KKN Tematik Undip yang dilaksanakan dipimpin oleh koordinator dosen pembimbing lapangan Ana Irhandayaningsih dan mendapat dukungan pendanaan dari Kemenristek Dikti. Pada acara pelepasan, Ana berpesan kepada mahasiswa Tim KKN Tematik Undip untuk menerapkan inovasi yang tepat guna bagi pelaku ekonomi kreatif di Desa Gemawang. Tim KKN Tematik Undip yang diterjunkan tersebut terdiri dari tiga puluh mahasiswa dari lima fakultas, yang diketuai oleh Reyhan Fadhil dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis.

Mhasiswa KKN Tematik Undip dengan Masyarakat Peserta Pelatihan


Tim KKN Tematik Undip antara lain memiliki program kerja berupa penerapan alat canting listrik dan alat pengeringan pewarna alami. Alat canting listrik yang diterapkan memiliki chip prosesor di dalamnya sehingga menghasilkan suhu yang optimal untuk proses nyanthing. Salah satu pengrajin batik yaitu Fauzi yang ikut dalam sosialiiasasi dan pelatihan, mengungkapkan bahwa proses nyanthing batik menjadi lebih cepat jika dilakukan dengan alat ini. Sementara di lokasi UKM Batik Laweng Ageng milik Fauziah, tim KKN Tematik Undip menerapkan alat pengering kulit kayu mahoni. Kayu mahoni merupakan bahan utama pewarna kain Batik Laweng Ageng. Fauziah merasa sangat terbantu dengan penerapan alat ini, terutama dalam menjalankan produksi pewarna alami saat musim hujan.


Tim KKN Undip juga melakukan kegiatan yang bersifat penguatan manajemen. Kegiatan tersebut dilakukan melalui pelatihan dan pemasaran online, pembukuan usaha, perkreditan, dan pendampingan legalisasi usaha. Terdapat enam UKM yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Para pelaku usaha merasa sangat terbantu karena mampu memasuki pasar online dengan persiapan yang baik. Pengrajin dan pemilik UKM juga merasa terbantu dengan ilmu pembukuan usaha dan fasilitasi pendaftaran merek dan izin usaha yang diperoleh selama pelatihan.


Pada aspek pengolahan limbah, Tim KKN Undip juga memperkenalkan teknologi untuk mengolah limbah batik. Melalui tambahan alat elektrik ini, polutan yang terlarut pada limbah pewarnaan batik dapat digumpalkan dan tidak ikut terbuang ke saluran air. Peralatan ini telah diujicobakan di kolam penampungan limbah di UKM Batik Gemawang.

Pengenalan Teknologi untuk Mengolah Limbah kepada Pengrajin Batik

Pada acara pelepasan, Kepala Desa Gemawang, Mahmudi memberi apresiasi kepada tim KKN Tematik Undip terutama sumbangsihnya terkait pengetahuan dan peralatan yang dapat menunjang ekonomi kreatif di Desa Gemawang. Mahmudi semakin optimis produktivitas pelaku ekonomi kreatif di Desa Gemawang dapat meningkat dan menghasilkan produk yang unggul dalam persaingan usaha.

The Stage V sebagai Momentum Kebangkitan Teater Buih

Reporter: Yusuf, Yunita

Pertunjukan Teater “The Stage V” oleh Teater Buih

FEB (26/9) – Telah diselenggarakan pertunjukan teater bertajuk The Stage V di Dome FEB Undip oleh UKM-F Teater Buih. Pertunjukan tersebut merupakan program kerja tahunan dari Teater Buih, dan untuk tahun ini Kebangkitan “Jangan Menangis Indonesiaku, Bangkitlah Indonesiaku” diangkat sebagai tema.

Kebangkitan Indonesia dan Teater Buih

Disampaikan oleh Ketua Panitia dalam wawancaranya bahwa pemilihan tema tersebut bisa dibilang karena ketidaksengajaan. Tema tersebut dipilih karena melihat bagaimana kondisi Indonesia akhir-akhir ini sehingga tercetuslah tema kebangkitan. Selain menggambarkan kebangkitan Indonesia, arti tema tersebut adalah menggambarkan kabangkitan dari Teater Buih itu sendiri dimana mereka berharap dengan dimulainya pertunjukan ini mereka dapat eksis kembali di kampus. Pertunjukan tersebut juga merupakan ajang pengenalan Teater Buih kepada para mahasiswa baru agar merka tertarik bergabung dengan Teater Buih. “Tema The Stage V ini diangkat karena momentumnya pas dengan kondisi negeri saat ini serta untuk menunjukan bahwa UKM-F Teater Buih ini ada dan kami akan berusaha untuk bangkit dan eksis di FEB,” tutur ketua pelaksana The Stage V.

Seni Menyindir Elit Politik

Pertunjukan dimulai dengan pembacaan puisi karya Khairil Anwar yang berjudul Karawang-Bekasi. Pembacaan puisi tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi Indonesia akhir-akhir ini yang sedang tidak baik-baik saja serta sebagai pengantar sebelum memasuki pertunjukan. Tampilan pertama adalah pertunjukan monolog yang mengisahkan seorang budak di Negeri Jiran, dimana budak tersebut tidak dimanusiakan layaknya manusia tapi justru diperlakukan seperti binatang serta tidak mendapatkan hak-haknya sama sekali. Tampilan tersebut dimaksudkan untuk menyindir aparat penegak hukum yang tidak bisa melindungi hak-hak pribadi atau individu serta hukum saat ini yang cenderung bersifat  tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Pertunjukan yang kedua dari tim Teater Buih merupakan suatu tamparan keras bagi para elit politik dan para koruptor. Dalam pertunjukan tersebut dipertontonkan secara jelas bagaimana kebusukan dari para elit politik yang merampas hak-hak rakyat demi memenuhi kebahagiaan dan kepuasan pribadinya. Di situ juga muncul tokoh Marsinah dan Munir yang merupakan aktivis HAM yang memperjuangkan hak-hak rakyat tetapi justru terbunuh dan kasusnya tidak menemui penyeesaian hingga sekarang.

The Stage V sebagai Pemantik Sikap Kritis

Untuk lebih mencairkan suasana pertunjukan tersebut diselingi dengan yang penampilan akustik dari beberapa ormawa di FEB. Setelah semua tampil maka acara ditutup dengan pembacaan puisi, sehingga penampilan teater tersebut berakhir dengan klimaks. Harapan dari panitia penyelenggara adalah The Stage V ini dapat menjadi pemantik bagi para mahasiswa untuk lebih peka terhadap kondisi Indonesia sekarang ini. Serta dengan acara ini diharapkan warga FEB dapat lebih membuka matanya bahwa seni itu luas dan seni juga dapat dijadikan ajang untuk menyalurkan aspirasi dan menyampaikan kritik terhadap pemerintah. “The Stage V ini sudah bagus, kita dapat menikmati seni pertunjukan sekaligus tau isu-isu terkait masalah politik dan hak asasi manusia,” ujar Dewi, salah satu penonton.

Seruan Aksi Reformasi Dikorupsi, Gubernur Jawa Tengah: Tuntutan Akan Dibawa Ke Pusat

Reporter: Cahyani Wulan, Kiki

Massa Aksi dalam Seruan Aksi Reformasi Dikorupsi

Semarang (24/9) – Telah berlangsung aksi yang bertujuan untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa, sekaligus sebagai bentuk keprihatinan atas tindakan pemerintah terhadap beberapa Undang-Undang yang direvisi. Aksi tersebut disebut Seruan Aksi Reformasi Dikorupsi “Bangun Kekuatan, Saatnya Turun ke Jalan” yang dipelopori oleh Aliansi Semarang Raya. Aksi tersebut berlangsung di Gedung DPRD Jawa Tengah. Aksi dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Semarang, seperti Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Islam Negeri Walisongo (UIN), Universitas Semarang (USM), Universitas Islam Sultan Agung (Unisula), Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Universitas Stikubank Semarang (Unisbank), Universitas Katolik Soegijapranata (Unika), Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Politeknik Negeri Semarang (Polines), Universitas Ngudi Waluyo (UNW), dan Universitas Kristen Satya Wacana(UKSW) Salatiga. Selain dari mahasiswa, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan beberapa masyarakat sipil juga ikut serta dalam aksi tersebut. Aksi dimulai pada pukul 10.00 WIB. Aksi diawali dengan orasi dari para pemimpin orator. Dari dimulainya aksi hingga siang hari, peserta aksi terus bertambah. Diperkirakan peserta aksi mencapai 1500 mahasiswa. Dalam aksi ini, mahasiswa ingin menyampaikan beberapa tuntutan terkait revisi UU kontroversial.

Para peserta aksi menyerukan bahwa Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, harus segera menemui mereka. Namun setelah satu jam lebih menunggu, gubernur atau pihak yang mewakili tidak kunjung menemui para peserta. Suasana pun memanas, para peserta mendorong dan menggoyangkan gerbang sampai roboh. Setelah itu, barulah ada mediasi antara Kapolrestabes Semarang Kombes Abioso Senoaji bernegosiasi dengan perwakilan mahasiswa. Abioso mengatakan dia akan mengizinkan massa aksi masuk ke halaman gedung DPRD Jateng dengan jaminan massa bisa tertib. Massa mulai tenang ketika Ganjar Pranowo menaiki mimbar dan berjanji bahwa akan menyampaikan aspirasi masyarakat kepada DPR RI.


Menurut massa, pemerintah sudah condong ke pemerintahan Orde Baru Oligarki. Kepentingan dan kesejahteraan rakyat tidak menjadi tujuan utama kinerja pemerintah namun tujuan pejabat sekarang hanya untuk melindungi kekuasaannya.


Berikut tuntutan yang tercantum dalam surat yang telah ditandatangani oleh Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah, Sukirman selaku Wakil DPRD Jawa Tengah, dan Kombes Abioso Senoaji selaku Kapolrestabes Semarang :
1.) Menuntut DPR RI mencabut draft RUU KUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Peternakan, RUU Permasyarakatan, dan mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, dan RUU Masyarakat Adat.
2.) Menuntut presiden untuk mengeluarkan PERPUU Pencabutan UU KPK dan UU Sumber Daya Air.
3.) Menuntut Kepala Presiden untuk memberikan sanksi negara kepada korporasi pembakar hutan.
4.) Menuntut Kepolisian RI untuk membebaskan dan menghentikan kriminalisasi aktivis Papua, Pejuang HAM, dan bertanggungjawab atas pemulihan nama baik setiap aktivis. Menghentikan intimidasi terhadap Papua.
5.) Menuntut Kepala Pemerintah untuk menjamin terlaksananya pemberian jasa layanan kesehatan BPJS yang baik dengan skema pembiayaan yang ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah sebagai lembaga yang berkewajiban untuk memenuhi ha katas kesehatan kepada seluruh rakyat Indonesia.
6.) Menuntut pemerintah untuk mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM
7.) Menuntut pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang demokratis, gratis, dan transparan dalam keuangannya, menghentikan komersialisme pendidikan yang mengakibatkan akses pendidikan semakin sulit diperoleh oleh seluruh rakyat Indonesia. Meningkatkan kesejahteraan guru honorer dan mengangkat guru honorer golongan K2 menjadi PNS dan atau PPPK, dan memoratorium kebijakan PPG bagi lulusan LPTK.

Aliansi BEM Se-Undip Gelar Aksi Solidaritas Tolak Upaya Pelemahan KPK

Reporter: Farah Nailal Azza

Aksi Solidaritas “Seribu Bunga untuk Duka Indonesia”

Semarang (22/09) – Bertempat di sekitaran Lawang Sewu, Semarang telah dilaksanakan kegiatan Aksi Solidaritas “Seribu Bunga untuk Duka Indonesia” yang diselenggarakan oleh Aliansi BEM Se-Undip. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap hasil putusan Presiden Jokowi terhadap pengesahan RUU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Terinisiasi dari Lanjutan Aksi Semarang Raya

Aksi solidaritas “Seribu Bunga untuk Duka Indonesia” merupakan bentuk aksi lanjutan yang diinisiasi oleh Aliansi Semarang Raya yang telah diselenggarakan pada Selasa, 17 September 2019 bertempat di kantor DPRD Jawa Tengah. Kegiatan ini mengikutsertakan berbagai elemen lembaga mahasiswa dan masyarakat. Aksi tersebut berisi tuntutan terhadap pemerintah atas pengesahan RUU KPK. Aksi solidaritas dari Aliansi BEM Se-Undip diselanggarakan atas dasar penolakan terhadap pengesahan RUU KPK. Pasalnya saat aksi yang diselenggarakan oleh Aliansi Semarang Raya lalu, pemerintah sudah lebih dulu menetapkan RUU tersebut, sehingga menoreh aksi protes dari mahasiswa diberbagai daerah khususnya di Kota Semarang. Saat diwawancarai M. Anies Ilahi, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip, menyatakan bahwa penetapan RUU KPK ini sangat disayangkan karena merupakan bentuk upaya pelemahan terhadap lembaga anti rasuah. “Sebelumnya kita sudah ada aksi serupa dari Aliansi Semarang Raya hari Selasa, tapi setelah itu dari pemerintah kok malah sudah diputuskan RUU KPK tersebut. Berarti itu tandanya, pemerintah tidak mendengar aspirasi masyarakat terkait penolakan RUU KPK,” ujar Anies. Aliansi BEM Se-Undip sebelum menyelenggarakan aksi kali ini, telah memberikan pernyataan sikap melalui media terkait dengan putusan RUU KPK, dan sebagai tindak lanjutnya adalah serangkaian aksi yang diselenggarakan di Lawang Sewu. “Kita sebelumnya ada pernyataan sikap dulu, saya yakin sebagian besar mahasiswa sudah tahu akan isu ini, jadi kita langsung ke materi pencerdasan yang selanjutnya ditindak lanjuti teknis aksi solidaritas,” tambah Anies.

Bentuk Protesan kepada Pemerintah

Urgensi Kegiatan sebagai Perhatian untuk Pemerintah

Aksi solidaritas kali ini, dirasa memiliki urgensi yang tinggi untuk pemerintah khususnya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai bentuk protes dari ketidakadilan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mengingat KPK merupakan lembaga anti rasuah yang sangat berperan penting terhadap proses demokrasi di Indonesia, dan apabila tidak dilindungi dengan payung hukum yang tepat, justru akan merugikan negara karena tingkat korupsi akan semakin tidak terkendali. “Saat keluar putusan dari pemerintah, sebenernya kita belum kalah. Masih ada harapan untuk menyuarakan sampai keluar pernyataan sikap lagi dari pemerintah terkait hal ini,” ujar Anies. Banyaknya tuntutan aksi dari masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, seharusnya menjadi atensi bagi pemerintah agar lebih berhati-hati dalam mengambil putusan, terutama terkait rancangan undang-undang (RUU). Lantaran prosesnya yang berlangsung begitu cepat, RUU KPK ini perlu dikritisi dengan lebih dalam lagi terkait perihal pelaku dibalik isu ini. Kegiatan ini bertujuan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, khususnya mahasiswa Undip sebagai civitas akademika untuk mampu menunjukkan sikap atas ketidakadilan yang sedang dihadapi oleh KPK.

Kegiatan berlangsung dengan jumlah massa lebih dari 300 orang. Kegiatan diselenggarakan pukul 20.00–22.00 WIB di Lawang Sewu, Semarang. Aksi dibuka dengan lagu-lagu nasional, pembacaan puisi, dan orasi dari koordinator-koordinator aksi, serta pembagian bunga mawar kepada pengguna jalan di lampu merah Lawang Sewu.

Penyuluhan Produk Hasil Olahan Jambu Biji Getas Merah, Strategi Pemasaran, dan Perizinan Usaha

Oleh: KKN PPM Tematik Tim II Desa Tlogowungu, Kec. Kaloran, Kab. Temanggung

Penyuluhan Produk Hasil Olahan Jambu Biji Getas Merah, Strategi Pemasaran, dan Perzinan Usaha di Pendopo Kantor Kecamatan Kaloran

Kaloran – Senin (19/08) lalu, mahasiswa KKN PPM Tematik Tim II Desa Tlogowungu melakukan penyuluhan mengenai produk hasil olahan jambu biji getas merah, strategi pemasaran, dan perizinan usaha yang bertempat di Pendopo Kantor Kecamatan Kaloran. Sasaran dalam penyuluhan ini adalah perangkat desa, pelaku usaha, dan masyarakat yang berasal dari  tujuh desa di Kecamatan Kaloran yakni Desa Tleter, Desa Getas, Desa Gandon, Desa Tlogowungu, Desa Kalimanggis, Desa Kwarakan, serta Desa Geblog.

Mahasiswa Berinovasi

Dalam penyuluhan tersebut mahasiswa menjelaskan kepada peserta mengenai berbagai macam olahan produk jambu biji getas merah menjadi produk yang bernilai jual tinggi serta jarang dijumpai sebelumnya. Diantaranya, kerupuk jambu, selai jambu, sirup jambu, cendol jambu, es kopi jambu, sabun jambu, manisan jambu, pestisida nabati, brownis kukus jambu, teh herbal daun jambu, dan toner jambu. Ide kreatif mengolah jambu biji getas merah menjadi berbagai macam produk pangan dan produk kecantikan muncul di karenakan masyarakat selama ini hanya menjual jambu dalam bentuk mentahan, dalam artian tidak di olah menjadi produk lain yang lebih bernilai secara ekonomis. Maka bila panen jambu telah tiba petani cenderung merugi karena harga jambu hanya mencapai Rp. 500/kg tidak sebanding dengan biaya perawatan dan pengairan yang selama ini dikeluarkan.

Produk Hasil Olahan Jambu Biji Getas Merah

Niat mahasiswa ini disambut baik oleh masyarakat dan peserta yang hadir saat penyuluhan, terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan mengenai bagaimana cara pengolahan jambu biji getas merah menjadi produk yang bermanfaat di masyarakat serta laku dijual di pasaran.“Benar, selama ini banyak keterbatasan dalam mengolah jambu biji getas merah, saat panen tiba kami hanya bisa menjual jambu dalam keadaan mentah (tanpa diolah terlebih dahulu), adanya penyuluhan ini membuka pikiran kami bahwa ternyata jambu biji getas merah bisa diolah menjadi berbagai macam produk yang bernilai jual, sehat, dan memiliki banyak manfaat serta kandungan bagi tubuh,” ujar salah satu peserta penyuluhan.

Tidak hanya penyuluhan saja, sejumlah mahasiswa juga membawa produk yang telah dibuat di posko untuk di coba peserta yang saat itu hadir dalam penyuluhan lengkap dengan label dan packaging-nya. Selain itu, juga ada yang membuka stand produk olahan dari jambu biji getas merah yakni es kopi jambu dan teh herbal daun jambu yang langsung dibuat saat itu juga ketika ada yang ingin mencoba, istilahnya produk yang disajikan masih fresh karena dibuat secara langsung sesuai permintaan.

Perlunya Strategi Pemasaran yang Menarik

Disampaikan pula bagaimana strategi pemasaran yang tepat untuk produk hasil olahan jambu biji getas merah. Sebelum sampai di situ, ada mahasiswa yang memberikan penyuluhan mengenai bagaimana tata cara foto produk yang benar supaya lebih menarik dan sesuai dengan standar penjualan melalui media online dengan instrument studio foto produk yang dibuat dengan menggunakan kardus dan karton, sangat simpel, murah, dan siapa saja dapat membuatnya. Saat penyuluhan tersebut berlangsung, masyarakat juga mengeluhkan sulitnya memasarkan produk yang selama ini sudah di produksi.

Media online masih menjadi salah satu solusi paling efektif, karena di era globalisasi ini lebih banyak masyarakat yang tertarik untuk belanja online yang praktis, tidak perlu membuang waktu untuk datang ke tempat, bisa di akses dimana saja dan kapan saja, serta banyak potongan harga yang ditawarkan. Maka dari itu, penyuluhan mengenai pembuatan Google My Bussiness, Instagram Bisnis, dan Facebook Page juga dilakukan sebagai media pemasaran produk olahan jambu biji getas merah kedepannya. Minimnya pengetahuan masyarakat di Kaloran mengenai media online sebagai media pemasaran yang menarik, maka mahasiswa KKN akan memberikan pendampingan secara efektif dan berkala melalui Whatsapp Group.

Perizinan dan Rekomendasi Produk

Kepercayaan masyarakat mengenai kualitas produk masih menjadi suatu hal yang sangat penting, dari hal tersebut maka diperlukan perizinan produk sebelum di pasarkan. Saat ini mengurus perizinan sudah dipermudah, dimana pengusaha bisa langsung datang ke Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, lalu mempersiapkan persyaratan yang ditetapkan, kemudian langsung bisa mendaftar izin usaha melalui sistem terpadu satu pintu yang disebut Single Sign On (SSO) melalui e-mail yang dibuat oleh pengusaha itu sendiri. Tidak perlu khawatir, industri kecil dengan omzet di bawah Rp.50.000.000 bisa mendaftarkan produk usahanya seperti halnya usaha besar atau pabrik. Saat semua syarat telah terpenuhi, pusat akan menyeleksi dan nantinya produk akan mendapat nomor P-IRT, pelaku usahanya pun akan diberikan keterampilan untuk menghasilkan produk yang berstandar guna di pasarkan.

Pendaftaran Izin Usaha di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kab. Temanggung

Tak berhenti sampai disitu, mahasiswa KKN PPM Tematik Tim II Jambu Merah juga memberikan rekomendasi kepada perangkat desa agar produk olahan jambu biji getas merah ini dapat menjadi produk unggulan dari BUMDesa. Setiap desa di tuntut untuk dapat menggali potensi yang dimiliki oleh desa tersebut, maka dari itu guna mewujudkan desa pintar atau smart village salah satunya harus memiliki pengelolaan BUMDesa yang baik dan produk unggulan yang menonjol dari desa tersebut.

Harapan kedepannya, semoga program KKN Tematik Tim II Jambu Merah ini dapat menjadi tumpuan masyarakat untuk mengembangkan produk olahan jambu biji getas merah yang mampu meningkatkan lapangan pekerjaan dan juga mendatangkan kesejahteraan masyarakatnya karena mampu menciptakan industri yang mandiri.

Mahasiswa KKN Undip Melakukan Revitalisasi Bank Sampah di Desa Temon

Mahasiswa KKN Undip Desa Temon Bersama Perangkat Desa

GROBOGAN – Tim  II KKN Undip 2019 Desa Temon pada minggu ke empat menjalankan program multidisiplin berupa revitalisasi bank sampah yang diadakan di Balai Desa Temon dengan sasaran yaitu perangkat desa dan perwakilan warga Desa Temon. Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dengan materi dari semua anggota tim berdasarkan bidang ilmunya masing-masing. Kegiatan ini juga di hadiri oleh sekretaris desa Temon, Eko selaku penanggungjawab untuk Tim KKN dari Desa Temon.

Revitalisasi bank sampah yang dilakukan oleh Tim II KKN Undip 2019 merupakan upaya mengatasi masalah sampah yang menjadi problem utama di Desa Temon. Selain itu produk yang menjadi icon dalam program ini yaitu akuaponik sebagai bentuk pemanfaatan sampah anorganik dan pupuk kompos sebagai bentuk pemanfaatan sampah organik. Adanya kedua produk tersebut diharapakan dapat menjadi contoh bagi masyarakat Desa Temon dalam memanfaatkan sampah anorganik dan organik serta dapat memilahnya dengan baik dan benar.

Akuaponik dibuat dengan memanfaatkan sampah gelas plastik bekas minuman dan juga ember bekas dengan budidaya sayuran bayam. Sedangkan pupuk kompos dibuat dari sampah organik yang diambil langsung dari Pasar Temon dengan jenis kompos yang dibuat yaitu jenis keranjang takamura yang lebih mudah dan sederhana sehingga mudah untuk diterapkan. Peserta yang mengikuti kegiatan acara ini sangat antusias dan tertarik terhadap produk unggulan dari program multidisplin Tim KKN Desa Temon.

Mahasisa KKN Undip Menyampaikan Materi Kepada Peserta yang Hadir

Materi lain dari kegiatan revitalisasi bank sampah ini yaitu adanya edukasi mengenai dampak sampah bagi kesehatan. Tujuan adalah untuk membuka wawasan dan kesadaran warga Desa Temon agar nantinya dapat mengelola sampah dengan baik dan benar. Selanjutnya materi mengenai edukasi pemilihan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Desa Temon. Tak hanya itu saja, Tim KKN Undip juga memberi edukasi mengenai pemanfaatan kulit semangka sebagai manisan yang produk olahannya dapat secara langsung di nikmati oleh peserta kegiatan. Akhir dari kegiatan program ini dibagikan leaflet mengenai pengelolaan sampah yang baik dan benar serta pemanfaatannya. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini masyarakat Desa Temon mulai bijak dalam mengelola sampah sehingga tidak lagi menjadi masalah utama di Desa Temon. Selain itu juga meningkatkan kesadaran para warga agar lebih tertib dalam membuang sampah pada tempatnya dan tidak membakarnya kembali.

“Transformasi” Gemblong Menjadi Makanan Khas Kekinian Wujudkan Potensi Bisnis Desa Banding oleh Mahasiswa KKN Undip

Mahasiswa KKN Undip Desa Banding Mengikuti Expo KKN Kabupaten Semarang

Semarang – Maraknya berbagai macam makanan kekinian yang memadati industri kuliner serta ketatnya persaingan bisnis kuliner saat ini menuntut setiap pelaku bisnis dalam bidang tersebut untuk membuat inovasi dan kreasi tanpa menghilangkan ciri khas dari produk pangan itu sendiri. Di Desa Banding, Kecamatan Bringin terdapat potensi makanan khas berbahan dasar olahan singkong yang dikenal dengan istilah ‘Gemblong’. Namun kurangnya pengetahuan dan wawasan akan inovasi produk serta analisis bisnis membuat potensi makanan khas desa ini belum berkembang sejak puluhan taun silam dan justru semakin terabaikan. Hal tersebut yang mendorong Mahasiswa Tim II KKN Undip Desa Banding yang terdiri dari berbagai mahasiswi dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda yaitu Ilma Nur Hayati (Fakultas Kedokteran), Citra Cahaya Yustika (Fakultas Pertanian), Dhita Yulianda (Fakultas Ekonomika dan Bisnis), Bella Annisa (Fakultas Hukum) dan Astri Kurniawati (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik) untuk menyelenggarakan perencanaan pengembangan inovasi potensi makanan khas Desa Banding menjadi makanan khas yang dapat  dilirik oleh kalangan masyarakat modern saat ini.

Program yang ditujukan kepada semua lapisan masyarakat desa baik dari perangkat desa, petani, pengrajin gemblong dan pemuda karang taruna desa ini dilaksanakan pada hari Sabtu (10/8) pukul 20.00 WIB di Aula Balai Desa Banding. Pelaksanaan program perencanaan ini disambut dengan antusias oleh tiap kalangan peserta yang hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Sebab banyak pihak yang berharap potensi makanan khas desa ini dapat dioptimalkan dan di-branding sebagai salah satu produk pangan olahan singkong yang khas dari Desa Banding serta dikenal tidak hanya oleh warga sekitar, tetapi juga oleh masyarakat luar daerah maupun provinsi.

Inovasi Olahan Gemblong oleh Mahasiswa KKN Undip

Kegiatan perencanaan optimalisasi ini terdiri dari berbagai aspek sesuai dengan prioritas permasalahan yang didapat yakni, mulai dari penyuplaian bahan baku, pengorganisasian sumber daya manusia yang baik dan benar analisis bisnis marketing, perizinan produk pangan hingga pertimbangan kandungan nilai gizi dari produk pangan tersebut. Dimana setiap penjelasan aspeknya, dipaparkan oleh mahasiswi dengan disiplin ilmu berkaitan. Kegiatan tersebut juga dilanjutkan dengan percobaan pembuatan inovasi produk Gemblong dari kreasi varian rasa, segi pengemasan dan juga merek dagang yang akan digunakan. Hasil inovasi yang telah dibuat kemudian dipamerkan dalam program pameran Expo se-Kabupaten Semarang yang diselenggarakan pada hari Selasa (13/08). Acara tersebut melibatkan banyak pihak serta peserta KKN dari berbagai daerah di Kabupaten Semarang.

Mahasiswa KKN Membantu Penginputan Data PTSL

Pada hari Jumat, 2 Agustus 2019, mahasiswa Tim II KKN Undip 2019 membantu perangkat desa dalam penginputan data PTSL yang merupakan program lanjutan dari pengisian data PTSL sebelumnya. Mahasiswa dan mahasiswi dari Tim II KKN UNDIP di Desa Kambangan berpartisipasi dalam penginputan data pada program pemerintah yang berupa sertifikat massal ini.

Kegiatan ini bertempat di kediaman bapak sekretaris desa, Bapak Abidin. Kegiatan ini dibimbing oleh tenaga ahli, Bapak Azis, dengan memberikan pengarahan langsung kepada 11 mahasiswa dalam hal tata cara penginputan pada PTSL secara sesuai. Setelah pemberihan pengarahan tentang tata cara penginputan maka dilanjutkan dengan tindakan langsung oleh mahasiswa dan mahasiswi dalam hal penginputan menggunakan laptop dari para mahasiswa dan mahasiswi.

Kegiatan yang berlangsung selama dua jam dengan menghasilkan sekitar 40 lembar sertifikat yang sudah terinput pada Microsoft Excel yang sudah disiapkan. Diharapkan dengan bantuan dari mahasiswa dan mahasiswi dapat membantu cepat terselesaikannya program PTSL tersebut.

Ecobrick: Solusi yang Diberikan Mahasiswa KKN Undip untuk Mengatasi Permasalan Sampah di Desa Barang

Mahasiswa KKN Undip Memberikan Pelatihan Membuat Ecobrick di Desa Barang, Temanganggung

Temanggung – Desa Barang merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Jumo yang sudah memiliki bank sampah. Meski demikian, permasalahan yang sering terjadi di bank sampah pada Desa Barang adalah dalam pengelolaan sampah plastik. Sampah yang terbuat dari plastik menimbulkan permasalah yang serius di Indonesia, sehingga muncul berbagai macam cara alternatif untuk mengelola sampah plastik. Salah satu pengelolaan sampah plastik yang dijadikan pelatihan oleh Tim II KKN Undip di Desa Barang adalah ecobrick. Ecobrick merupakan material ramah lingkungan pengganti batu bata. Satu ecobrick yang dibuat dengan botol plastik bekas 1500 ml harus mencapai berat 500 gram. Dengan memanfaatkan sampah menjadi ecobrick, limbah plastik akan menghasilkan sesuatu yang lebih aplikatif dan berguna. Ecobrick yang dibuat dapat dibentuk menjadi modul yang dapat dijadikan berbagai bentuk seperti meja, kursi, tempat sampah, dan lain-lain.

Pada tanggal 6 Agustus 2019, Tim II KKN Undip dari Jurusan Administrasi Bisnis melakukan pelatihan pembuatan ecobrick di posko KKN yang terletak di Dusun Barang Wetan, Desa Barang. Pelatihan ini dihadiri oleh 14 orang yang terdiri dari Karang Taruna Dusun Barang Wetan, serta para kelompok pengelola sampah Desa Barang. Pelatihan diawali dengan presentasi materi, menonton video bahaya sampah plastik bagi lingkungan, dan praktik yang dilakukan langsung oleh seluruh warga desa yang hadir. Praktik pembuatan ecobrick ini dimulai dengan menggunting sampah plastik yang sebelumnya di cuci terlebih dahulu hingga bersih, kemudian memasukan sampah plastik ke botol dengan bambu yang runcing dengan teknik-teknik tertentu. 

Pelatihan mengenai ecobrick menjadi suatu hal yang baru bagi warga Desa Barang. Hal ini dikarenakan ecobrick bisa digunakan sebagai material ramah lingkungan pengganti batu bata yang kuat, awet, dan tahan air. Selain itu, setiap rumah warga yang ada di Desa Barang masih jarang yang memiliki tempat sampah, sehingga ecobrick bisa dijadikan material pembuat tempat sampah, bahkan bisa digunakan sebagai bahan dasar membuat rumah. Ecobrick juga dapat menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah plastik untuk bank sampah Desa Barang sekaligus mengajarkan kepada masyarakat desa untuk memilah sampah sebelum diangkut oleh petugas.

Mahasiswa Tim II KKN Undip Memberikan Pendampingan Pengelolaan Website Desa Kepada Perangkat Desa Pagumenganmas

Mahasiswa KKN Undip Memberikan Pendampingan Pengelolaan Website Kepada Perangkat Desa Pagumenganmas

Pekalongan (9/8) – Tepat pukul 08.30 WIB, Mahasiswa Tim II KKN Undip 2019  telah bersiap di Balai Desa Pagumenganmas, Kecamatan Karangdadap, Pekalongan untuk melaksanakan salah satu program multidisiplin yaitu pendampingan pengelolaan website desa yang diikuti oleh perangkat desa Pagumeganmas. Hal ini merupakan salah satu arahan Abdul Qoyyum, selaku Camat Kecamatan Karangdadap. Abdul mengharapkan tiap desa dapat memiliki website desa untuk menunjang desa masing-masing.

Di era globalisasi ini, keberadaan website desa dirasa sangat penting. Masyarakat banyak mencari dan mendapat informasi dari internet. Website desa dapat membantu masyarakat desa mendapatkan informasi mengenai Desa Pagumenganmas dan kegiatan-kegiatan yang ada di desa. Selain itu, website desa dapat membantu Desa Pagumengmas untuk dikenal oleh dunia luar.

Dalam kegiatan ini, para perangkat desa dberi penjelaskan mengenai cara meng-input postingan, mengatur menu, dan mengatur tampilan website. Website desa berisi struktur kepengurusan desa, tata cara mengurus administrasi kependudukan dan surat-surat desa, dan lain-lain. Website desa juga berisi potensi-potensi baik alam maupun industri yang ada di Desa Pagumenganmas, sehingga dapat menjadi sarana pemasaran bagi industri-industri milik masyarakat Desa Pagumenganmas.

Diharapkan dengan adanya kegiatan pendampingan pengelolaan website desa, para perangkat desa dapat mengelola website dengan baik sehingga dapat bermanfaat bagi pelayanan publik kepada masyarakat Desa Pagumenganmas.

Kardiono selaku Kepala Desa Pagumenganmas mengungkapkan bahwa program multidisiplin yang berupa pendampingan, pengelolaan website desa akan bermanfaat bagi perangkat desa maupun masyarakat dalam kegiatan yang ada di desa. “Saya berharap dengan adanya website desa ini dapat membantu kinerja perangkat desa dan pelaporan kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Pagumenganmas,” ujar Kardiono.