Pengumuman Penerimaan Anggota Baru LPM Edents FEB Undip

Hallo Calon Jurnalis Kampus!

Saat yang kamu nanti-nanti akhirnya tiba juga. Seusai melewati berbagai macam rangkaian tahap seleksi anggota baru, kini terpilih beberapa nama yang akan menjadi anggota baru LPM Edents tahun depan.

Berikut nama-nama yang telah lolos tahapan seleksi anggota baru.

NamaJurusan/Angkatan
Aditya FebriansyahEkonomi Islam/2019
Alam Suprobo S.Akuntansi/2019
Aisyah YuliyantiAkuntansi/2018
Aji DarmawanIlmu Ekonomi Studi Pembangunan/2018
Annisa Pratiwi R.Akuntansi/2018
Banindhia Shalfa A.Akuntansi/2019
Diah Ayu AtmajaniEkonomi Islam/2019
Dinda CaesariaEkonomi Islam/2019
Dwi Novi H.Akuntansi/2018
Dwi Ratna S.Ekonomi Islam/2019
Erva HamidahAkuntansi/2019
Faya Nabila A.Ekonomi Islam/2018
Fitri WidyaningrumEkonomi Islam/2019
Khaira AqliyaAkuntansi/2019
Indah Sulistyo U.Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan/2019
Martin Bonaraja S.Akuntansi/2018
Muhammad Faisal A.Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan/2019
Muhammad Rijal R. F.Manajemen/2019
Nisa AlisvaAkuntansi/2019
Putri NurmaliaIlmu Ekonomi Studi Pembangunan/2019
Rio Dwi C.Manajemen/2019
Salma Vaza Z.Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan/2019
Sheila Anya K. N.Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan/2019
Sheilla Nur R.Manajemen/2019
Shela Nur F.Akuntansi/2019
Sulistiawati ManoppoManajemen/2019
Susan Liya S.Akuntansi/2019
Wening ShafiyahIlmu Ekonomi Studi Pembangunan/2019
Yusak Dwi Y.Manajemen/2018

Bagi kalian yang belum diterima, terus semangat. Semoga yang sudah diterima dapat menjalankan amanah dengan baik.

Salam Pers Mahasiswa,
Edents Pejuang Mulia.

Accofest 2019: Bring The Show To The Unique World

Reporter: Yunita, Dhia

Acara Accofest oleh KMA FEB Undip

FEB (1/11) – Bertempat di Dome Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip), telah berlangsung acara Accounting Festival (Accofest) 2019 oleh Keluarga Mahasiswa Akuntansi (KMA). Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun KMA yang jatuh pada tanggal 10 Oktober. Tahun ini, KMA mengusung tema “Circus Maximus” yang berarti sebuah pertunjukan sirkus, dengan tagline “Bring the show to the unique world”.


Accofest merupakan event tahunan yang telah berlangsung sejak empat tahun lalu. Acara ini ditujukan untuk Akundip, yaitu sebutan untuk mahasiswa program studi Akuntansi, tepatnya untuk empat angkatan aktif terakhir. Sebelum main event berlangsung, pada hari Kamis (31/10) telah diadakan pre-event berupa kegiatan Donor Darah Sukarela yang berlangsung di Selasar PKM FEB.


Acara yang telah disiapkan berbulan-bulan ini berlangsung dengan cukup meriah. Setelah open gate sekitar pukul 16.00 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai susunan acara yang disambut dengan antusias oleh para peserta. Acara dibuka dengan sambutan-sambutan dan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh ketua pelaksana, ketua KMA, perwakilan dari departemen, dan ketua angkatan masing-masing angkatan.


Kemeriahan dan antusiasme para peserta semakin terlihat selama acara berlangsung. Mulai dari adanya fashion show dari tiap angkatan, penampilan angkatan, pengukuhan angkatan 2019 oleh angkatan 2016, 2017, dan 2018, penampilan dari pengurus KMA, serta awarding, dan puncaknya yaitu penampilan spesial dari Serempet Gudal.

Pengukuhan angkatan sendiri merupakan inovasi baru yang pada tahun-tahun sebelumnya belum ada. “Perbedaannya di tahun ini kita membawa suatu hal yang baru yaitu ada pengukuhan angkatan. Jadi di Accofest ini nanti teman-teman sembilan belas akan diterima secara simbolis dan juga disaksikan oleh empat angkatan aktif yang ada di akuntansi,” ujar Clara Galuh selaku ketua panitia.


Dalam wawancaranya, Clara menyampaikan harapannya agar Accofest ini tidak sekedar untuk memperingati ulang tahun KMA, tapi juga sarana untuk mempererat hubungan antar angkatan maupun di dalam angkatan itu sendiri, serta sebagai wadah untuk bakti sosial terhadap sesama.

Diskusi Santai: Menilik Kerekatan RUU KPK Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Reporter: Yusuf, Aan

Suasana Diskusi Santai yang Diadakan oleh HMD IESP

FEB (29/10) – Bertempat di Selasar Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) FEB Undip telah dilaksanakan kegiatan diskusi santai yang diselenggarakan oleh Bidang Keilmuan Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) IESP FEB Undip. Diskusi tersebut diperuntukan kepada seluruh mahasiswa FEB utamanya jurusan IESP dengan mengangkat isu “Polemik RUU KPK: Bagaimana Keterkaitanya dengan Pertumbuhan Ekonomi” sebagai topik dalam diskusi tersebut.

Mengorek Isu Terkini sebagai Topik

Diskusi santai merupakan wadah yang diberikan oleh Bidang Keilmuan HMD IESP untuk mengajak seluruh mahasiswa IESP pada khususnya dan FEB pada ummumnya untuk berdiskusi tentang isu ekonomi terkini. Dari isu-isu tersebut dilakukan analisis terkait dampaknya terhadap perekonomian. Dalam diskusi santai tersebut peserta yang hadir dibagi menjadi dua kubu, yaitu ada yang pro bahwasannya terdapat korelasi antara Rancangan Undang-Undang (RUU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap pertumbuhan ekonomi dan ada pula yang kontra dengan hal tersebut.

Menyorot RUU KPK dari Sudut Pandang Ekonomi

Hadir sebagai pemantik jalanya diskusi yaitu Fadel Nugraha, mahasiswa jurusan IESP angkatan 2017. Membuka jalanya diskusi dengan memaparkan terkait bagaimana kinerja KPK selama ini dan mengapa isu tersebut patut dikaitkan dengan perekonomian. “Sejak KPK didirikan tahun 2004 hingga 2018 jumlah penindakan kasus korupsi di Indonesia cukup meningkat dari tahun ke tahun. Namum, untuk tahun ini jumlah penindakannya menurun signifikan,” ungkap Fadel. Menurutnya jumlah penyelidikan, penyidikan, penuntutan, inkrah (berkekuatan hukum tetap), dan eksekusi mengalami penurunan sebanyak 38,2 persen dari 123 kasus di 2017 menjadi 76 kasus di 2018. Selanjutnya, pemantik memberikan kesempatan kepada peserta untuk memberikan argumen terkait hubungan antara korupsi dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut kubu yang pro, korupsi tidak selalu berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi karena korupsi justru mempengaruhi pertumbuhan secara tidak langsung dengan intermediasi economic freedom. Negara-negara dengan economic freedom yang rendah maka korupsi menurunkan pertumbuhan ekonomi dan sebaliknya jika economic freedom tinggi maka korupsi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kubu ini juga mendukung terkait RUU KPK, bukan kerena mereka mendukung korupsi tetapi menurut mereka KPK bukanlah lembaga suci yang selalu benar. KPK juga harus diperlakukan layaknya lembaga pemerintah lain supaya pelaksanaan tugas bisa lebih jelas. Oleh karena itu, KPK juga perlu diawasi dan diatur kinerjanya.

Kubu kontra menyatakan bahwa korupsi berhubungan negatif dengan pertumbuhan ekonomi dan merusak investasi yang ada. Artinya jika korupsi itu tinggi maka investasi terhadap domestik mengalami penurunan sehingga pertumbuhan ekonomi juga akan mengalami penurunan. Menurut kubu ini, RUU KPK akan berdampak pada daya tarik seorang investor yang ingin berinvestasi di Indonesia sehingga mereka merasa ragu untuk berinvestasi. Hal tersebut disebabkan karena para investor sulit untuk merealisasikan investasinya, oleh karena itu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Menambah Khazanah Keilmuan dengan Berdiskusi

Output yang diharapkan dari diskusi ini adalah supaya mahasiwa FEB pada umumnya dan mahasiswa IESP khususnya mendapatkan pengetahuan dan wawasan terkait isu-isu terkini dan bagaimana kaitannya dengan perekonomian. Selain itu, dengan adanya diskusi ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk dapat menyalurkan pendapat dan melatih diri untuk lebih kritis dalam berargumen. Untuk membuat diskusi lebih terarah maka dari panitia menghadirkan pemantik yang memang berkompeten terhadap isu atau materi tersebut sehingga diskusi menjadi lebih terarah dan ada ilmu yang dapat diambil oleh peserta.  “Diskusi ini dilakukan untuk melatih daya berfikir kritis mahasiswa IESP tentang isu-isu perekonomian terkini,” ujar Rinanda, Kepala Bidang keilmuan HMD IESP. Dalam diskusi tersebut dari pihak panitia melakukan notulensi, sehingga setelah acara selesai notulensi tersebut dapat dipublikasikan dalam bentuk infografis supaya lebih menarik dan dapat dibaca oleh mahasiswa FEB yang tidak hadir pada diskusi tersebut.

Mengenal Gaya Hidup Halal di Era Milenial melalui Seminar Nasional Icepro 2019

Reporter: Yusuf Sufyan

Sukoso , Kepala Badan Penylenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menyampaikan materi di hadapan para peserta seminar nasional.

FEB (21/9) – Bertempat di Laboratorium Kewirausahaan FEB Undip, telah dilaksanakan kegiatan seminar nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam (HMEI) FEB Undip. Seminar nasional ini bertajuk Islamic Economics Project (Icepro) yang mengangkat tema “Halal Life Style For A Better Milenial’s Generation”.

Mengukuhkan Halal Lifestyle Dikancah Nasional
Hadir sebagai pembicara pertama yaitu Sukoso selaku Kepala Badan Penylenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), mengungkapkan bahwa Indonesia harus unggul tidak hanya dari segi kuantitas saja, tapi kualitas juga. “Bukan hanya unggul dari segi kuantitas masyarakat muslim, tapi Indonesia harus unggul dari segi kualitas masyarakat muslimnya”. Menurutnya, banyak hal yang harus dibenahi dari segi kualitas produk halal yang ada di Indonesia, supaya hahal lifestyle lebih dapat diterima dan diterapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia yang beragama muslim.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas produk halal yang ada di Indonesia adalah dengan membentuk Badan Penylenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Badan tersebut, memiliki kewenangan dalam menetapkan sertifikasi halal terhadap suatu produk dengan beberapa prinsip di antaranya: Tracebility atau menelusuri dari awal sampai akhir produksi bagaimana produk tersebut tercipta, Grey Area atau mengecek apakah penggunaan teknologi dapat berpengaruh terhadap kehalaln suatu produk, serta melakukan pengujian secara berkala. Peran masyarakat dalam melakukan penjaminan produk halal juga sangat diperlukan diantaranya adalah mengawasi produk yang beredar, melakukan pengaduan dan pelaporan kepada BPJPH serta setiap masyarakat berhak mendapatkan pengarahan serta sosialisasi dari BPJPH.

Membranding Halal Life Style Melalui Public Speaking
Pembicara kedua dari seminar nasional Icepro adalah Muhammad Hafid, seorang presenter dan reporter TVRI. Dalam sesi ini, pembicara menjelaskan tentang bagaimana mempromosikan atau mem-branding halal lifestyle kepada generasi milenial melalui public speaking. “Public speaking adalah kemampuan berbicara didepan umum yang enak didengar dan membuat orang yang memperhatikan bisa tertarik dengan apa yang dibicarakan”, ujar Hafid. Menurutnya, dengan publicspeaking semua informasi tentang halal lifestyle dapat tersampaikan, asalkan public speaking-nya dibawakan secara menarik dan sesuai dengna aturan. Kerika kita berbicara tentang halal lifestyle, yang pertama kita harus perhatikan adalah content atau apa isi yang kita bicarakan. Kedua, gesture impressive atau gerak tubuh dan ada pesan atau kesan yang tersampaikan kepada audience. Ketiga, recriprocity atau ada timbal balik, karena orang yang sedang berbicara didepan umum dia bagaikan seorang pemimpin saat itu.

Istiqamah dengan Halal Life Style
Pembicara terakhir dalam seminar tersebut adalah Chiki Fawzi, seorang muslim travler. Chiki menceritakan tentang penglamannya bagaimana menjadi seorang muslimah atau hijabers tapi tetap dapat menjadi seorang traveler dan animator yang hasil karyanya sudah diakuki oleh dunia internasional. Dia juga menceritakan bagaimana menjadi sukarelawan dan aktif dalam social project ke berbagai daerah di Indonesia, serta penglamannya traveling ke berbagai destinasi wisata.  “Dimana ketika kita seorang muslim maka akan banyak sekali kendala yang ditemui misalnya sulitnya menemui masjid, sulit menemukan makanan halal dan menemui orang-orang yang tidak seiman dengan kita,” ujar Chiki.

Ketika Ckiki traveling keluar negeri ternyata juga menemui banyak kendala yang dihadapi, misalnya kendala bahasa dengan masyarakat setempat, sulit menentukan waktu ibadah, dan sulit menemukan produk halal. Oleh kerena itu, ketika ingin menggunakan produk tertentu di luar negeri kita harus memperhatikan ingredients atau bahan-bahan dari produk tersebut.

Seminar nasional Icepro 2019 dapat diikuti sekitar 300 peserta. Acik Febrianti, salah satu peserta seminar memberikan tanggapannya seusai mengikuti seminar tersebut. “Seminar Icepro tahun ini sangat bagus, acaranya rapi, tepat waktu, pemicaranya menarik dan panitianya terlihat sangat siap dalam menylenggarakan seminar tersebut,” ujar Acik.

Grand Opening Research Sebagai Tonggak Awal Menjadi Seorang Mahasiswa Ideal

Reporter: Yusuf Sufyan

Grand Opening Research di Laboratorium Kewirausahaan FEB Undip

FEB (14/09) – Bertempat di Lab. KewirausahaanFEB Undip telah dilaksanakan sebuah kegiatan kaderisasi riset yang diselenggarakan oleh Bidang Riset dan Keilmuan BEM FEB Undip untuk seluruh mahasiwa baru angkatan 2019. Acara tersebut adalah Grand Opening Research (Goreh) yang pada tahun ini mengangkat tema “Upgrade Your Intellectuality Trough Research Activity”.

Materi pertama adalah mengenai sosialisasi Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) oleh Shoimatul Fitria selaku koordinator PKM-K FEB Undip. Dalam sosialisasi tersebut pemateri menjelaskan mengenai perkembangan medali emas yang diperoleh Undip diajang Pimnas sejak tahun 2010-2019. Pemateri juga me-review berapa jumlah PKM dari FEB yang ternyata masih kalah jauh dengan fakultas-fakultas lain seperti Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat. Pemateri berharap bahwa untuk tahun yang mendatang FEB harus lebih banyak yang membuat PKM dan lolos pendanaan. Oleh karena itu beliau juga menjelaskan timeline penyusunan PKM untuk tahun 2020, dimana ketika ingin lolos PKMtingkat universitas dan bisa diunggah ke Kemenristekdikti maka mahasiswa wajib untuk mengikuti PIM Undip 2019. Dimana pedoman pembuatan PKM dapat melihat pada pedoman PKM 2018. Dalam penilaiannya, aspek pertama yang dinilai adalah kelengkapan dan kesesuaian administratif, tingkat kreatifitas serta inovasi atau kebaruan dari tahun sebelumnya. Sebelum menutup materi pertama, pemateri juga menjelaskan masing-masing karakteristik dari PKM 5 bidang (PKM-P, PKM-M, PKM-K, PKM-T dan PKM-KC), serta menghimbau mahasiswa baru untuk segera menetukan ingin membuat salah satu dari PKM tersebut

Materi kedua adalah tentang mahasiwa berprestasi, yang diisi oleh Azizah Fathma, seorang mahasiwi Ekonomi Islam angkatan 2016 yang merupakan Mawapres 3 FEB Undip dan juga peraih medali emas diajang Pimnas 2019. Dalam materi ini dijelaskan bahwa mahasiswa sangat perlu untuk meraih prestasi sebanyak mungkin untuk menjadi mahasiswa yang ideal. Dimana langkah-langkahnya adalah meluruskan niat, memiliki tekad yang kuat, mengenali personal diri, membuat target terstruktur, dan mengukir prestasi sebanyak-banyaknnya. Serta dijelaskan juga bagaimana tips dan trik untuk meraih mimpi-mimpi besar yang kita miliki yaitu dengan adanya good preparation, stay positive, find your mentor, try opporrtunities dan relation. Pemateri juga menjeaskan tiga komponen paing penting untuk menjadi serang mahasiswa yang ideal yaitu melakukan kegiatan research, memiliki jiwa entrepreuneur, dan memiliki jiwa leadership.

Materi ketiga atau materi terakhir adalah tentang bagaimana cara membuat proposal PKM, bagaimana cara supaya proposal PKM mendapatkan pendanaan dan bagaimana supaya PKM yang dibuat dapat lolos Pimnas. Dalam materi ini yang mengisi adalah Chariska Wauya dan rekan-rekannya, peraih medali emas dan perunggu di Pimnas 2019. Pemateri menjelaskan tentang teknis pembuatan proposal PKM, mulai dari awal menetukan ide, menulis proposal, konsultasi dengan dosen pembimbing, pengunggahan PKM ke Kemenristekdikti serta bagaimana suatu PKM dapat lolos Pimnas dan mendapatkan medali emas.

KUPAS EKSTRA: Memperkenalkan Ekstra Kampus dan Pembentukan PIB

Reporter: Anisulfuad, Dewima

Kegiatan Kupas Ekstra oleh Badan Eksekutif Mahasiswa

FEB (10/09) – Bidang Kebijakan Publik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan acara Kupas Ekstra dengan mengangkat tema “Ekstra untuk Apa?” bersama empat organisasi ekstra yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Acara yang diselenggarakan merupakan pengenalan masing-masing ekstra dan juga diskusi terbuka antara perwakilan ekstra dengan peserta.

Diselenggarakan di Gedung PKM FEB lantai 2, acara ini dihadiri oleh sekitar 40 orang, baik dari perwakilan keempat ekstra dan juga mahasiswa FEB. Alvo Ricardo selaku ketua panitia mengatakan bahwa tujuan acara ini adalah untuk menjalin silaturahmi antar ekstra dan juga organisasi intra yaitu BEM FEB itu sendiri. Selain berdiskusi dan bersilaturahmi, hasil dialog dalam acara ini juga akan di publikasikan kepada publik.

Masing-masing perwakilan ekstra diberi waktu sepuluh menit untuk menyampaikan perkenalan organisasi yang meliputi sejarah, perkembangan, ideologi, dan juga kegiatan di masing-masing ekstra yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam perkembangannya, masing-masing ekstra juga mempunyai peran tersendiri dalam mengawal serta membuat suatu tujuan yang baik ke depannya. Selain membahas perkembangan, kaderisasi di setiap ekstra juga tak lepas dari sorotan karena masing-masing ekstra dikenal dengan kaderisasi yang baik. Perwakilan KAMMI menuturkan bahwa kaderisasi KAMMI mempunyai prinsip berbuat baik secara bersama-sama sehingga kekompakan dan kekuatan kaderisasi sangat diutamakan. KAMMI mengandalkan pengenalan dan ajakan secara persuasif yaitu dengan cara personal.

Sesi selanjutnya adalah sesi diskusi yang dipandu oleh Muthahary Hayyurahman (Ketua Bidang Kebijakan Publik BEM FEB Undip) dengan mengangkat topik pembentukan UKM PIB (Pembinaan Ideologi Bangsa). UKM PIB sendiri merupakan UKM yang terdiri atas berbagai ekstra yang didirikan dengan tujuan untuk menangkal bibit radikalisme yang ada di lingkungan kampus. Perwakilan HMI (Adiitya) beranggapan bahwa keberadaan UKM PIB ini sangat membantu keberadaan ekstra. Ekstra yang ada sudah tak lagi dianggap tabu dan sudah diakui oleh Menristekdikti sehingga keberadaan ekstra di lingkungan kampus bisa berkembang. “Acara ini merupakan terobosan yang bagus karena ekstra yang pada awalnya dianggap tabu sekarang sudah tidak dianggap seperti itu lagi,” kata Farhan (Perwakilan dari GMNI). Namun masih ada hal yang ditakutkan yaitu mengenai pencegahan pihak kampus dengan radikalisme yang dikhawatirkan akan ada pada ekstra. Padahal visi dan misi dalam organisasi ekstra sama sekali tidak mengandung unsur radikalisme. Hasil akhir dari diskusi tersebut adalah keempat organisasi ekstra sepakat dan setuju dengan UKM PIB dengan mengawal dan membersamai baik dalam maupun luar sistem pada UKM PIB, “Secara gagasan dan ideologi dengan UKM PIB kita sepakat, cuma jangan sampai ada monopoli ideologi Pancasila dan jangan sampai keberadaan PIB menjadi polisi moral di Undip,” Ujar Farhan (perwakilan GMNI).

Harapan Bidang Kebijakan Publik BEM FEB ke depannya adalah supaya bisa mengadakan kerjasama dengan cara berdiskusi bersama untuk membahas isu-isu di lingkungan kampus. Selain itu harapannya bagi mahasiswa FEB adalah supaya bisa lebih bisa paham dengan organisasi ekstra yang ada di Undip khususnya di FEB.

NGOPI AROMA GANJA: Diskusi Legalisasi Ganja dengan Ahli dari Berbagai Bidang

Suasana Acara NGOPI AROMA GANJA

Undip (31/08) – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Napza Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan acara “NGOPI AROMA GANJA (Ngobrol Pintar Argumen Mahasiswa Akibat Gundah Gulana Legalisasi Ganja)”. Acara ini mengangkat tema “Pesona Mariyuana Pengusik Kedamaian Negara”. Acara yang diselenggarakan merupakan acara diskusi yang membahas mengenai pro kontra legalisasi ganja di Indonesia yang perlahan mulai memudar akan tetapi masih menjadi topik hangat di masyarakat.

Bertempat di Ruang Teater Perencanaan Wilayah Kota (PWK) Undip, acara ini menghadirkan empat narasumber yang ahli pada bidang kenarkobaan, hukum, kesehatan serta Lingkar Ganja Nusantara. Narasumber tersebut adalah Susanto (Kepala Bidang Pemberantasan Dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jawa Tengah), Leony Sondang Suryani (Juara Lomba Debat Konstitusi Nasional tahun 2018), Saebani (Dosen Toksikologi Forensik Undip), dan Yohan Misero (Komunitas Lingkar Ganja Nusantara – LGN). Diskusi ini dipandu oleh Muhammad Khairunaim dengan dihadiri kurang lebih 80 peserta yang berasal dari berbagai kalangan baik dari mahasiswa masyarakat umum serta organisasi-organisasi sosial di daerah Semarang dan bahkan dari mahasiswa luar kota.

Pada sesi pertama ini setiap pembicara memaparkan pandangan mereka mengenai tema yang diangkat dalam acara berdasarkan bidang masing-masing. Moderator memantik jalannya sesi pertama ini dengan meminta penjelasan pada bidang kesehatan. Kemudian moderator melempar pertanyaan mengenai pandangan terhadap isu kepada LGN. “Charlotte Fiqi seorang anak yang menderita sindrom yang penyembuhannya menggunakan tanaman ganja yang diprosuksi menjadi obat bernama Charlotte Swap. Dalam pelarangan tanaman ganja, dalam peredarannya maka orang akan tetap melakukan penyalahgunaan dengan menggunakan ganja sintetis yang jauh lebih berbahaya,” terang Yohan. “Dan penggunaan ganja disini dilihat dalam medis yang di Indonesia sendiri tidak diperbolehkan sedangkan dalam masyarakat ada penyakit yang memang disembuhkan dengan penggunaan tanaman ganja. Di Thailand dan Korea Selatan sudah dilegalkan tanaman ganja namun dengan administrasi dimana masyarakat menggunakan tanaman ganja lewat pemerintah yang mengatur. Negara bagian AS yang menggunakan ganja lebih sedikit dalam overdosis dalam penggunaan opioid dibandingkan negara yang melarang penggunaan ganja dikarenakan penggunaan ganja dan opioid bersamaan membuat kecenderungan overdosis opioid berkurang. Ganja medis sudah ada dipatenkan oleh suatu perusahaan farmasi yang digunakan untuk pasien epilepsi yang mungkin di Indonesia dapat dilaksanakan dalam tahun yang akan datang,” lanjut Yohan Misero.

Foto Bersama Panitia dan Pembicara

BNN sebagai pencegah penyalahgunaan narkoba juga memberikan pandangannya mengenai tema yang diangkat dalam acara ini. “Legalisasi ganja, dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 dimana terjaminnya persediaan narkotika untuk medis dan melakukan pemberantasan terhadap penyalahgunaan zat narkotika. Legalisasi ganja dalam UU dimana memasukkan ganja dalam zat narkotika gol 1 yang termasuk kecanduaan golongan tinggi dimana siapapun yang melakukan penyalahgunaan akan di atur sesuai dengan UU pasal 127 dan rehab pasal 54 dan menentukan bentuk rehab dalam pasal 103,” terang Susanto. Menurut Susanto, Ganja di Indonesia penggunaannya terbesar dari negara lain. Di Indonesia, ganja dapat digunakan secara tepat guna dalam dunia kesehatan akan tetapi harus dibuktikan dengan penelitian. Di sesi kedua merupakan sesi diskusi, acara ini memiliki konsep diskusi dua arah yang dalam hal ini peserta juga dilibatkan untuk memberikan argumennya. Tujuannya agar para peserta yang hadir semakin bertambah wawasannya dengan berdiskusi dengan pakar. Sesi selanjutnya merupakan sesi tanya jawab, bagi peserta yang ingin menggali lebih dalam terhadap tema yang diangkat dalam acara ini menanyakan langsung dengan pembicara. Acara ditutup dengan closing statement dari masing-masing pembicara.

Notulensi diskusi dan materi dapat diunduh pada bit.ly/Notulendanmateringopiaromaganja2019

Public Hearing 3: Dari SSO, SIAP Hingga Anggaran Dana

Reporter: Kiki, Yunita

Dwi Cahyo Utomo sebagai Narasumber Public Hearing 3

FEB (2/9) – Bertempat di Hall Gedung C Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip), telah berlangsung acara Public Hearing 3 (PH 3) yang diadakan oleh Senat Mahasiswa (SM) FEB Undip. Acara tersebut merupakan rangkaian acara terakhir setelah beberapa waktu sebelumnya diadakan acara serupa, yaitu PH 1 tentang sarana dan prasarana, serta PH 2 tentang visi dan misi FEB kedepannya.

PH 3 kali ini mengangkat tema “Reformasi Digital Ekonomi Menuju FEB 4.0” dengan pokok bahasan terkait akademik dan kemahasiswaan. Pembahasan tersebut dibagi ke dalam dua sesi talkshow. Sesi pertama diisi oleh Dwi Cahyo Utomo selaku Direktur Keuangan Undip yang juga ditunjuk sebagai Komandan Pasukan Khusus Kontak IT yang mengurusi reformasi sistem informasi yang ada di Undip, dan sesi kedua diisi oleh Firmansyah selaku Wakil Dekan FEB Bidang Akademik dan Kemahasiswaan.

Pada sesi pertama difokuskan untuk pembahasan masa peralihan atau masa transisi sistem informasi khususnya di FEB, yaitu dari Simaweb ke Single Sign On (SSO) serta penggunaan sistem informasi akademik yang baru. Seperti yang diketahui sistem SSO yang digarap tim khusus sejak bulan Februari 2019 ini mulai diterapkan tahun ini pada angkatan 2019, dan akan diimplementasikan secara menyeluruh untuk civitas akademika Undip mulai 1 Januari 2020 mendatang. Sistem Informasi Akademik (SIA) juga sedang disempurnakan menjadi Sistem Informasi Akademik, Penelitian, dan Pengembangan, atau yang lebih dikenal dengan nama SIAP. Perlu diketahui bahwa SSO dan SIAP adalah dua hal berbeda. SSO merupakan sistem informasi terintegrasi dengan cakupan yang luas serta berbagai fasilitas didalamnya, seperti Wi-Fi, One Drive, Office 365, dan lain sebaginya. Sementara SIAP adalah sistem informasi akademik yang merupakan bagian dari pengembangan SSO.

Dikatakan oleh Dwi Cahyo Utomo bahwa adanya SSO bukanlah tanpa alasan. Beberapa tujuan dan alasan pengadaan SSO yaitu untuk membangun digital identity bagi semua civitas akademika Undip, membangun peradaban komunitas digital yang mana komunitas Undip tidak akan pernah lepas selamanya, sebagai salah satu langkah digitalisasi ekonomi dengan memanfaatkan komunitas tersebut, serta sebagai salah satu langah menuju World Class University. Sementara itu, adanya SIAP dimaksudkan agar sistem informasi akademik di Undip lebih terintegrasi.

Selama masa peralihan ini, sistem SSO dan bagian pengembangan dari SSO itu sendiri sedang terus mengalami masa pengembangan sehingga wajar jika belum maksimal atau masih banyak keluhan. Namun perbaikan terus dilakukan agar saat penerapan secara menyeluruh nanti sudah benar–benar siap digunakan. Kesulitan dalam penggunaan SSO maupun SIAP dalam masa transisi ini sebenarnya sudah dibantu dengan adanya video petunjuk dan contact person yang ada di dashboard saat log in SSO. Dengan adanya digitalisasi di berbagai bidang termasuk akademik tujuannya adalah untuk menciptakan sistem yang terintegrasi agar nantinya Undip mampu bersaing dengan perguruan tinggi kelas dunia.

Kemudian dalam sesi tanya jawab, kurang lebih dapat dirangkum terkait pengembangan SSO dan SIAP yaitu bahwa dalam masa transisi dan pengembangan ini, kedepannya otorisasi akan diikuti otentifikasi sehingga meminimalisir kecurangan seperti titip absen. Untuk pengisian Isian Rencana Studi (IRS) melalui SSO, diharapkan masalah server down seperti Simaweb tidak akan terulang kembali. Adanya SSO ini memberikan kepastian bahwa mahasiswa maupun dosen tidak mengalami jadwal yang bentrok. Terkait digitalisasi, adanya SSO juga sangat memungkinkan akan adanya kuliah online.

Kemudian di sesi kedua yang diisi oleh Firmansyah. Sesi ini fokus membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan bidang akademik, seperti anggaran untuk PKM, PIMNAS, dan perlombaan lainnya.

Firmansyah sebagai Narasumber Public Hearing 3

Hal pertama yang dibahas adalah mengenai PKM. Saat ini untuk mencari data-data guna PKM-P pihak kampus sudah memfasilitasi mahasiswa dengan adanya Bloomberg. Bloomberg mempunyai manfaat yang sangat banyak. Tidak hanya untuk mahasiswa dan dosen, namun juga untuk umum. Namun untuk umum, kedepannya akan dikenakan biaya apabila meninginkan akses Bloomberg.

Terkait adanya keterbatasan akses karena banned yang sering dialami, Firmansyah mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh dokumen yang diunduh sudah melebihi batasannya. Sayangnya, sampai saat ini pihak pengelola Bloomberg belum mengetahui batasan tersebut. “Saya sudah berulang kali menanyakan hal ini namun pihak pusat tidak pernah menjawabnya,” Kata Firmansyah.

Rencana kedepannya, Bloomberg tidak bisa diakses setiap hari namun hanya hari-hari tertentu atau saat adanya pelatihan. Hal ini dilakukan agar keberlangsungan Bloomberg tetap berjalan. Namun untuk keperluan PKM, jam operasional Bloomberg akan ditambah.

Pembahasan selanjutnya terkait anggaran PKM, menurut Firmansyah, untuk tahun 2020 besaran anggaran PKM dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Semua kategori sudah ada porsinya masing-masing. Berikut adalah rinciannya: Delegasi seni, budaya, dan olahraga sebesar 51 juta ; Ormawa 315 juta ; Lomba proposal PKM yang lolos masing-masing 250 ribu untuk 100 kelompok ; Kegiatan persiapan yang dilakukan dua kali masing-masing 100 juta ; Delegasi kompetisi dalam dan luar negeri 74 juta.

Pembahasan selanjutnya adalah mengenai pergantian range nilai yang sebelumnya A, B, C dan seterusnya menjadi A, AB, B, dan seterusnya. Pihak fakultas menginginkan hal yang tersebut namun pihak universitas tidak menyetujuinya. Namun sampai saat ini pihak fakultas masih terus mengupayakannya.

Masalah lain yang dibahas adalah mengenai pemindahan gedung untuk magister managemen. Meskipun sudah terdapat anggaran, sayangnya rencana mengenai pembangunan dan pemindahan gedung saat ini belum disetujui pihak universitas.

Terakhir, terkait jam operasional Sekretariat Pusat Kegiatan Mahasiswa, yang semula hanya sampai pukul 17.00 kini diperkenankan sampai pukul 21.00. Perubahan ini sebagai bentuk dukungan fakultas kepada organisasi mahasiswa yang ada di FEB agar dapat meningkatkan soft skill mahasiswanya.

Mengenal Arti Penting Politik Luar Negeri Melalui Diplomatic Festival

Reporter: Marsha, Dhia

Menteri Retno Memaparkan Materi pada Acara Diplofest

Undip (30/8) – Bertempat di Gedung Prof. Soedarto, telah berlangsung Talkshow #MenluRetno yang merupakan salah satu rangkaian dari acara Diplomatic Festival (DiploFest) yang diadakan oleh Kementrian Luar Negeri (Kemenlu). DiploFest terdiri dari dua rangkaian acara, yaitu public lecturer corpbisnis substansi dan festival yang mendidik namun dikemas kedalam bentuk yang disukai oleh anak-anak milenial. Sebelumya, acara DiploFest telah diselenggarakan di lima kota yang berbeda, yaitu Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, dan Padang. Kemenlu menyelenggarakan DiploFest ini dengan tujuan untuk membumikan semua ilmu yang dimiliki diplomat, semua ilmu yang dilakukan dalam diplomasi dan politik luar negeri Indonesia ke dunia sehingga masyarakat dapat menerima ilmu tersebut dan masyarakat bisa sekaligus memahami betapa beratnya dan betapa complicated-nya pelaksanaan sebuah politik luar negeri.

Talkshow ini dihadiri oleh Walikota Semarang, Sekretaris Daerah Semarang, Rektor Undip, Guru Besar Undip, beberapa Dekan Undip, dan jajaran kemenlu. Antusiasme peserta untuk mengikuti talkshow sangat tinggi. Hal ini terbukti dari jumlah peserta yang hadir melebihi kapasitas tempat duduk yang disediakan panitia, sehingga beberapa peserta yang tidak kebagian kursi  harus duduk di atas karpet. Hal menarik dari situasi tersebut yaitu ketika Menteri Retno ikut bergabung untuk duduk di karpet bersama para peserta.

Suasana dalam Acara Diplofest di Gedung Prof. Sudarto SH

Dalam Talkshow Diplofest, Menteri Retno menyampaikan empat isu yang diprioritaskan Indonesia dalam melaksanakan politik luar negeri. Isu yang pertama yaitu mengenai Ekosistem Perdamain. Menurut Menteri Retno, cara memperkuat ekosistem perdamaian yaitu dengan menyuburkan budaya damai. Cara ini berupa  penyelesaian masalah dengan cara damai  seperti berdialog dan negosiasi. Cara kedua yaitu dengan Penguatan Peace Keeping Operation (PKO). Sebagai negara sepuluh besar penyumbang PKO, Indonesia ingin menambah jumlah peace keepers perempuan, tidak hanya di Indonesia tapi dunia. Maksud dalam penambahan ini adalah karena secara kodrati, perempuan akan membawa suasana damai didalam lingkungannya. Sehingga harapannya peace keepers perempuan dapat me-recover korban pasca konflik yang mayoritas adalah anak-anak dan perempuan. Politik luar negeri Indonesia juga sangat gencar dalam mengangkat isu perempuan, hal itu dibuktikan dengan dukungan penuh terhadap isu Women Peace and Securate, yaitu dengan melakukan capacity building. Menteri Retno mengatakan “Kita ingin perempuan menjadi agen perdamaian, agen toleransi, dan agen  kesejahteraan. Hormati kemajemukan, hormati perbedaan, kuatkan toleransi”.

Isu kedua yaitu tentang Penguatan Organisasi Kawasan. Kawasan menjadi sangat penting artinya karena masing-masing kawasan selalu memiliki dinamika yang berbeda-beda. Jika kawasan kuat, maka organisasi dapat menyelesaikan masalah sebelum masalah tersebut berkembang. ASEAN sebagai organisasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, telah menumbuh kembangkan budaya damai diberbagai negara. Indonesia sebagai salah satu negara ASEAN, memiliki konsep inisiatif yang dikagumi oleh negara di kawasan Asia tenggara dan berbagai negara lain. Konsep ini adalah  IndoPacific. Konsep inisiatif tersebut menekankan pada budaya dialog, budaya damai, dan budaya kerjasama. Budaya kerjasama sendiri memiliki empat pilar, yaitu budaya maritim, konektivitas, SDGs 2030, dan kerjasama ekonomi lainnya. “Kita ingin IndoPacific stabil dan aman, karena akan menjadi kesejahteraan sehingga dapat menjadikan Asia aman,” ujar Menteri Retno.

Isu ketiga yang dibahas yaitu mengenai Negara Palestina. Politik Indonesia sangat mendukung Palestina, Indonesia konsisten untuk membantu rakyat Palestina sampai sekarang. Tantangan yang dihadapi Palestina semakin besar. Isu negosiasi dari dunia dengan Palestina terlepas satu persatu diantaranya yakni, status Yerussalem yang sekarang diubah menjadi Ibu Kota Israel, wilayah Palestina yang semakin lama semakin mengecil, dan bantuan yang diberikan kepada pengungsi semakin lama semakin berkurang. “Indonesia tetap akan bersama rakyat Palestina. Mendampingi dan membantu Palestina untuk memperjuangkan hak-haknya,” tegas Menteri Retno. Dalam hal ini Indonesia memberikan bantuan lebih banyak ke PBB untuk Palestina.

Menteri Retno Saat Menemui Media

Selanjutnya, isu yang dibahas yaitu mengenai Diplomasi Ekonomi. Diplomasi ekonomi menjadi salah satu prioritas politik Luar Negeri Indonesia. Diplomasi ekonomi diperkuat dengan memperkuat diplomat melalui pemberian ilmu ekonomi yang lebih dalam dan termasuk ilmu internasional lainnya. Diplomasi ekonomi ini merupakan longterm political invest dan dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja ekonomi, pariwisata, politik dengan negara lain. Orientasi pada diplomasi ekonomi akan diperkuat dengan membuka pasar baru, salah satunya pasar Afrika. “Diplomasi ekonomi kedepan akan terus kita perkuat. The benefit of our diplomation must be felt of all of us,”  ujar Menteri  Retno sebagai penutup.

Dipenghujung pemaparan, Menteri Retno memberikan pesan kepada seluruh peserta yang hadir. “Indonesia ingin menjadi negara pemenang. Untuk menjadi pemenang tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri melainkan kita semua,” tutup Menteri Retno.

Live In Kesmes 2019: Aksi Nyata, Kerja Kita, untuk Indonesia

Reporter: Yunita, Dewima

Kesmes Melakukan Acara Live In di Dusun Batur Kidul, Semarang

Semarang – Kelompok Studi Masalah Ekonomi dan Sosial (Kesmes) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan kegiatan Live In dengan tema “Ekonomi Pertanian” di Dusun Batur Kidul, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang pada tanggal 23–25 Agustus 2019. Kegiatan ini merupakan program kerja dari Kesmes yang diadakan setiap tahunnya di tempat yang telah disurvei sebelumnya.

Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang merupakan salah satu desa yang terletak di kaki Gunung Merbabu. Desa tersebut adalah desa cukup terpelosok namun memiliki potensi yang cukup tinggi di sektor pertanian. Setelah survei di berbagai tempat, akhirnya terpilihlah desa tersebut sebagai tempat untuk diadakannya Live In.

Live In merupakan bentuk kegiatan sosial yang mana para pesertanya dapat berinteraksi sosial secara langsung dan merasakan bagaimana kehidupan masyarakat di tempat mereka tinggal untuk sementara tersebut. Live In Kesmes 2019 tersebut diadakan untuk menunjukkan kepada para mahasiswa bagaimana kehidupan di desa karena apa yang dipelajari di dunia perkuliahan belum tentu selaras dengan apa yang terjadi di desa. Adapun tujuannya adalah untuk saling berbagi ilmu, baik dari apa yang dipelajari di kampus yang mungkin bisa diterapkan di desa tersebut maupun sebaliknya.

Selama tiga hari dua malam, para peserta Live In yang terdiri dari panitia, anggota Kesmes, dan volunteer menginap di rumah–rumah warga Dusun Batur Kidul. Mereka melaksanakan berbagai kegiatan yang ditujukan untuk warga dusun, baik yang diisi oleh para peserta maupun dari partner yang didatangkan oleh panitia.

Hari pertama kegiatan dibuka dengan upacara pembukaan dilanjutkan mendatangi rumah warga yang telah dibagi untuk tiap kelompok. Para warga menyambut mereka dengan hangat dan ramah sehingga tidak membuat para peserta canggung. Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian pelatihan kepada Kelompok Tani Ngudi Lestari dan Kelompok Tani Hijau Daun serta para peserta tentang pembuatan pupuk cair dengan memanfaatkan limbah sayur. Materi tersebut diisi oleh Bina Mitra.id yang kebetulan juga merupakan mahasiswa Undip. Malam harinya, diadakan kegiatan doa bersama dan acara Jagong Asik yang merupakan acara sharing atau berbincang hangat dengan warga dusun setempat.

Peserta Live In Kesmes Mengajar di Madrasah Ibtidaiyah

Hari kedua, para peserta Live In melakukan kegiatan mengajar di Madrasah Ibtidaiyah dan cek kesehatan warga dusun. Antusiasme para siswa sangat terlihat jelas saat para peserta Live In menggantikan guru mereka untuk mengajar. Dari kegiatan mengajar tersebut, diharapkan para siswa termotivasi untuk mengejar cita–cita mereka sehingga tidak putus sekolah.  Sementara itu, kegiatan cek kesehatan gratis diadakan oleh panitia yang bekerja sama dengan social volunteer dari Fakultas Kedokteran Undip juga diikuti warga setempat dengan antusiasme tinggi. Acara dilanjutkan dengan perlombaan ala tujuh belasan disiang hari dan pensi dengan warga setempat di malam harinya.

Di hari terakhir, peserta berkeliling di ladang untuk belajar bagaimana berladang dari petani langsung dan dilanjutkan dengan membersihkan lingkungan dusun. Upacara penutupan dilaksanakan di sore hari sekaligus sebagai tanda acara telah berakhir.

Kegiatan Live In tersebut memberikan banyak pelajaran bagi para peserta maupun para warga. Nuansa kekeluargaan antar warga yang sangat kental di dusun sangatlah jarang ditemukan di kehidupan saat ini, khususnya di daerah perkotaan. Gotong royong dan guyub rukun serta kesederhanaan dan keramahan mereka memberikan pengalaman baru yang sangat berarti. Begitu pula bagi warga desa, yang mana pelatihan dan kegiatan dari panitia tentu memberikan ilmu yang bermanfaat bagi mereka.

Dari adanya kegiatan tersebut, diharapkan kedepannya dusun tersebut semakin maju baik sektor pertanian, ekonomi maupun pendidikannya. Begitu pula bagi para volunteer dan peserta lainnya agar bisa mengambil pelajaran setelah mengikuti acara tersebut serta tetap menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan para warga setempat.